YSEALI: Persahabatan Bervisi Mie Instant

Young SouthEast Asian Leader Initiative Juorney.

Wilayah Pengelolaan Perikanan Indonesia

Pembagian Potensi Perikanan Indonesia berdasarkan Region.

Romansa Negeri Sakura: Hakone Moutn Shizuoka Perfecture

AFS Intercultural Learning Japan - Kizuna Bond Project.

Pemetaan Mangrove di Sidoarjo dengan Citra Satelit Landsat

Geographic Information System (GIS) and Remote Sensing.

Showing posts with label LPDP. Show all posts
Showing posts with label LPDP. Show all posts

Wednesday, February 20, 2019

Kami Lanjut Studi Karena Menganggur?

PK-124 Arsa Candradimuka LPDP 2018

Mungkin hampir 8 bulan saya dinyatakan lulus seleksi Beasiswa LPDP Afirmasi tujuan luar negeri terhitung hingga tulisan ini dibuat. Saya dinyatakan lolos setelah melalui proses yang sangat panjang sejak July 2017, proses tersebut diantaranya adalah:
  1. seleksi berkas/dokumen,
  2. selek online assessment,
  3. seleksi substansi (interview, leaderless group discussion, dan on the spot essay writing)
Semua awardee LPDP pasti mengalami semua proses tersebut, dan saya yakin semua melalui tahap demi tahap tersebut dengan segala macam kekonyolannya (akan diceritakan di tulisan yang lain yaa biar penasaran, hehe).

Saat ini semua proses sudah hampir selesai diantaranya IELTS sesuai permintaan kampus setelah 2 kali test, LoA unconditional jurusan Aquaculture and Marine Resource Management di Wageningen University and Research, Belanda, Surat Perjanjian Kontrak dengan LPDP, Letter of Sponsorship (LoS), dan Letter of Guarantee (LoG). Proses selanjutnya adalah mengurus visa, dan tetek bengek lain menjelang keberangkatan. Akan tetapi, dalam proses keberangkatan ini sembari tetap berjualan kopi seperti biasanya, ada fenomena menarik yang saya dapatkan ketika melihat beberapa orang yang menyebut dirinya Scholarship Hunter atau pejuang beasiswa yang dengan gigihnya tanpa lelah memperjuangkan cita-cita dan mimpinya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi bahkan tak tanggung-tanggung hingga ke luar negeri. Diantara mereka ada yang dari kalangan professional (sudah bekerja dan dapat tugas belajar), ada yang 2-3 tahun lulus S-1, bahkan ada yang fresh graduate alias baru lulus, jan masih anget-angetnya lulus kuliah.

Saya sempat melakukan interview secara informal kepada para pejuang beasiswa tersebut di salah satu lembaga kursus terkenal ketika saya belajar IELTS tempo hari, dan hasilnya mengejutkan. Semangat teman-teman memang tak diragukan dalam menggapai cita-cita. Tapi, ada satu hal yang sangat mengganjal perasaan saya selama menjadi interviewer disana. Saya mendapati banyak yang berjuang untuk apply beasiswa khususnya LPDP yang hanya dilandasi oleh ambisi mewujudkan cita-cita, bahkan tak jarang ada yang mendaftar beasiswa karena ini merupakan pilihan terakhir karena sudah melamar kerja kemana-mana tapi hasilnya nihil.

Jadi apabila dikategorikan ada beberapa motivasi kenapa melanjutkan studi lanjut marak digandrungi masa kini (berdasarkan yang saya temui, mungkin bisa ditambah sendiri):


  1. Tuntutan profesi dan urgensi untuk meningkatkan kapabilitas melalui jalur pendidikan, dalam konteks ini saya banyak menemui dosen atau researcher yang fokus pada bidang-bidang tertentu.
  2. Ambisi mewujudkan cita-cita, pejuang tipe ini banyak yang menjadikan beasiswa sebagai ajang pembuktian diri dalam arti keinginan misal untuk mewujudkan mimpi, membahagiakan orang tua, keluarga, atau juga menaklukkan calon mertua, hehe. Orang semacam ini yang saya dapati melihat beasiswa dan studi lanjut ke luar negeri itu seolah adalah tujuan utama dan final sehingga apapun akan dia korbankan untuk mewujudkan keinginannya.
  3. Terinspirasi oleh postingan foto instagram di luar negeri yang 'seolah' wow dan keren travelling, mainan salju, selfie sana sini, biasanya orang seperti ini terpacu oleh negara tujuan tanpa pikir pusing jurusan atau kampus yang diinginkan pokoknya negara A titik.
  4. Keadaan di suatu masyarakat yang memaksa untuk studi, orang semacam ini datang dari suatu daerah yang mendapati masyarakatnya memiliki banyak masalah sehingga tergerak untuk turut andil dalam penyelesaian masalah tersebut.
  5. Bingung mencari kerja, setengah putus asa akhirnya memutuskan untuk lanjut studi saja. Ini adalah poin yang unik yang saya temukan dimana orang semacam ini menganggap beasiswa mampu menjadi tameng untuk menangkis omongan tetangga, orang tua, kerabat akibat susahnya mencari kerja.
Pada dasarnya, semua motivasi dan alasan melanjutkan studi di atas tidak ada yang salah. Semua sah-sah saja dan tidak haram hukumnya, toh akhirnya juga juri ketika proses seleksi yang menentukan lolos tidaknya. Tapi, Saya ingin meng-highlight poin terakhir nomor 5 yang membuat saya berpikir "wah ada yaa ternyata yang semacam ini, dan trendnya mulai banyak". Studi lanjut bahkan ke luar negeri itu karena menganggur dan menjadi pilihan terakhir karena jengah dengan proses mencari kerja yang sulit dan tak kunjung dapat, selama proses observasi yang saya dapatkan kebanyakan yang masuk kategori ini adalah lulusan S-1 yang tergolong fresh graduate student dengan semangat berkobar melamar kerja kesana kemari, tes TPA, interview user dengan banyak perusahaan tetapi belum juga beruntung, atau juga merupakan orang yang rasional dan cerdas dengan kalkulasi matematika untuk dan rugi. Pasalnya, dia mampu mengkalkulasikan dan membandingkan gaji di suatu perusahaan dengan "gaji" dari beasiswa berupa living allowance, uang buku, family allowance dll.

Iya, beasiswa sudah diibaratkan layaknya ladang mencari nafkah untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah, dollar, pounds, atau bahkan yuro untuk sementara, ditambah bonus belajar mendapatkan gelar dan ijazah yang diharapkan ketika selesai kuliah pekerjaan akan semakin mudah, serta opportunity pun juga bertambah. Rupaya hasil obervasi saya salah, trend melanjutkan studi lanjut karena susah cari kerja tidak hanya terjadi bagi scholarship hunter saja, saya juga menemui mahasiswa kinyis-kinyis alias lulusan baru dengan background keluarga yang relatif mampu juga melanjutkan pendidikan lebih tinggi dengan jawaban melalui percakapan sebagai berikut antara Saya dan Surti (bukan nama sebenarnya):

Saya: "Sampean kenapa to kok mau lanjut sekolah lagi? Kan orang tua juga mampu dan punya bisnis yang cukup untuk menghidupi keluarga."

Surti: "Hoalah mas, sekarang cari kerja itu susah kalau cuma modal S-1, soale lulusan S-1 ki sudah banyak bertebaran dimana-mana, makanya sekarang harus S-2 minimal biar mudah dapat kerja. Terus pengennya orang tua itu yaa anaknya ini kerja di kantor yang berseragam necis gitu loh mas bukannya jualan di pasar kaya Bapak/Ibuk atau ternak tani di rumah."

Oke saya mulai paham menarik benang merahnya yaitu antara menganggur susah dapat kerja, sekolah lanjut S-2 dengan harapan biar dapat kerja lebih keren, dan tuntutan orang tua supaya berseragam. Kira-kira begitu premisnya untuk mendeskripsikan kondisi saat ini.

Iya lagi-lagi tidak ada yang salah dalam menentukan pilihan semacam itu...

Tapi, saya hanya berpikir kalau studi lanjut hanya karena biar ada kegiatan karena susah cari kerja dan menganggur bukankah kemungkinan susah dapat kerja dan mengaggur masih memiliki peluang untuk terjadi lagi ketika susah lulus S-2? *hanya pikiran liar saja

Mungkin perlu kita tau semakin tinggi level pendidikan, semakin tinggi pula beban dan tanggung jawab yang dipikul apalagi dengan beasiswa dana pemerintah seperti LPDP. Pada faktanya saya sangat hormat kepada kawan-kawan yang sebenarnya sudah settle dalam karir, punya keluarga yang harmonis, tetapi masih mau menyisihkan waktu untuk meng-upgrade kapasitas diri dengan belajar. Jadi, kita tidak belajar atau studi lanjut karena kami menganggur sekali lagi tidak!

Kalau saya pribadi hanya seorang penjual kopi keliling dan tidak saya tutupi, bahkan ketika interview beasiswa pun saya jelaskan secara gamblang, saya tidak bekerja dengan instansi korporasi manapun, saya bukan ASN/PNS saya hanya seorang penjual kopi kecil keliling dari pesisir. Tapi, terlepas dari saya yang memang konyol, ada banyak kawan-kawan di sana yang berangkat studi memang sudah siap secara dhohiriyah dan bathiniyah, jadi ketika kembali selesai studi tidak justru masih bingung mencari kerja sana sini. Mereka pulang untuk menerapkan ilmu yang didapat, melanjutkan apa yang sudah dimulai ketika ditinggal berangkat studi.

Disini saya menekankan pentingnya memiliki purpose untuk apa kita studi lanjut, apa motif yang mendasari kenapa kita studi lanjut, dan urgensi apa yang membuat kita harus studi lanjut. Sekali lagi, itu pilihan yaa kawan-kawan, tidak ada yang salah dalam setiap pilihan itu.

Mari kita tanyakan kepada diri kita sendiri, termasuk kategori yang manakah kita?

Sunday, November 19, 2017

[Serius BUKAN TIPS & TRIK] Bagaimana Saya (Seorang Penjual Kopi) Bisa Lolos LPDP Luar Negeri 2017(?)

Logo Beasiswa LPDP

Alhamdulillah 'alaa nikmatillah, allahummasholli 'alaa sayyidinaa Muhammadin wa'alaali sayyidinaa muhammad. 

Segala puji bagi Tuhan YME, Sang Hyang Widi Wasa, Dzat Yang Mengecet Lombok atas segala nikmat yang tiada tara rasanya. Saya seperti menjadi orang dipenuhi dengan nikmat dan rahmat dari Tuhan karena diberikan kepercayaan untuk mengemban amanah baru menjadi Awardee Beasiswa LPDP jalur Afirmasi tujuan Luar Negeri 2017. Akan menjadi sebuah kesombongan dan kufur terhadap nikmat Tuhan apabila saya tidak mengucap syukur kepada Tuhan atas nikmat ini.

Iya benar sekali, 25 Oktober 2017 menjadi kejutan tersendiri dengan diumumkannya beasiswa LPDP LN 2017. Saya mendaftar melalui jalur Afirmasi Alumni Bidik Misi tujuan Wageningen University and Research dengan jurusan MSc of Aquaculture and Marine Resource Management. Bagaimana saya tidak bersyukur? Beasiswa LPDP adalah beasiswa yang sangat kompetitif dengan pendaftar mencapai ribuan orang, dan apalagi semenjak tahun in ada beberapa kebijakan baru yang sangat mengejutkan, diantaranya adalah:
  1. Grade standard penilaian dinaikkan,
  2. Standard Bahasa Inggris dinaikkan dimana TOEFL ITP sudah tidak berlaku lagi kecuali untuk pendaftar jalur afirmasi,
  3. Jadwal pendaftaran yang dibuka hanya 1 kali dalam 1 tahun dari yang semula 4 x dalam 1 tahun,
  4. Penggunaan bahasa Inggris secara full untuk seleksi tujuan luar negeri,
  5. Penambahan seleksi online assessment sebagai salah satu parameter penilaian yang bisa menggugurkan,
  6. Jumlah awardee yang menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya, mengindikasikan adanya pengurangan kuota LPDP tahun 2017 ini.
Itulah kejutan tak terduga dari LPDP, melalui kebijakan baru ini banyak dinamika yang terjadi karena memang kebijakan ini baru dan secara tiba-tiba muncul pada tahun ini. Jadi, bagi siapapun yang berniat untuk mendaftar LPDP monggo disiapkan segala kemungkinan yang terjadi.
Baik, tulisan ini bukan bercerita tentang tips dan trik atau kiat-kiat supaya tembus beasiswa LPDP, juga bukan ajang untuk promosi atau jualan jamu, hehe. Tips dan trik, kiat-kiat lulus LPDP sudah dapat dijumpai dan diakses secara mudah di internet. Jadi, jangan sungkan-sungkan browsing dan baca baca yaa dulurrr :D saya hanya akan menambahkan salah satu poin penting yang banyak orang pemburu beasiswa lupa yaitu track record. Pentingnya membuat rekam jejak dan mencocokkan kriteria yang diinginkan penyedia beasiswa dengan background rekam jejak kita.

Percaya atau tidak lurr, ketika dikumpulkan dalam kelompok PK (Persiapan Keberangkatan, kebetulan saya PK-124) ternyata memang benar awardee LPDP tidak gemen-gemen atau bukan orang biasa-biasa yang sembarangan! Mereka berasal dari latar belakang yang sangat keren dipenuhi prestasi di bidangnya. Rekam jejak kalau saya boleh mengibaratkan adalah senjata atau gaman yang siap dikeluarkan kapan saja.

"Mendaftar beasiswa tanpa mempersiapkan rekan jejak yang baik, ibarat perang tanpa senjata"


Meluangkan waktu beberapa saat tidak menjadi masalah, karena itu adalah bagian proses. Tidak sedikit dari senior-senior kita yang hebat itu telah mengalami kegagalan terlebih dahulu. Bisa jadi, beasiswa yang mereka dapatkan adalah hasil jerih payah ke-sekian kalinya meng-apply. Selagi terus menyiapkan gaman dan mengasahnya setajam mungkin. Jangan selalu meminta yang instant yaa dulurr, maunya sih sekali langsung lulus tetapi kadang kenyataan berbeda dengan harapan.

1. Lantas, kenapa saya bisa lulus?
2. Apa rekam jejak yang menjadi gaman saya?
3. Apakah mungkin LPDP salah memilih orang semacam saya?

Iya, tulisan ini hanyalah sebuah muhasabah pribadi saya dulurr, saya coba untuk berfikir dan merenung proses saya hingga saat ini. Sebuah pilihan keputusan yang besar bagi saya setelah lulus dari Universitas Brawijaya. Saya lulus ditandai dengan yudisium Agustus 2016, dan diwisuda Januari 2017. Setelah lulus hingga saat ini, saya memutuskan untuk tidak mendaftar kerja ke perusahaan apapun dan atau tempat lainnya! Saya memantabkan diri untuk pulang ke kampung halaman, daerah pesisir Selatan Kabupaten Tulungagung. Dengan kata lain ijazah S-1 saya nganggur methekur di dalam lemari, hehe. Sebuah pilihan yang beresiko bukan?

Saya berproses kembali bermasyarakat setelah terasing selama 4 tahun. Selama berproses tidak ada yang mudah, hingga singkat cerita saya mendirikan Green Social Business Kopi Mangrove Segara denga memberdayakan masyarakat pesisir di 4 pantai Tulungagung yaitu Pantai Sine, Pantai Gerangan, Pantai Brumbun, dan Pantai Sidem. Saya berproses selama dua tahun dalam mendirikan dan menjalankan bisnis ini, hingga kami bisa memberdayakan lebih dari 50 warga lokal pesisir Tulungagung.
Kopi Mangrove Segara
Sebuah proses yang panjanng sebelum akhirnya saya memutuskan untuk mendaftar LPDP dan melanjutkan studi lagi, (topik ini akan saya bahas di tulisan selanjutnya) ^^. Tapi, iya benar proses saya membuat kopi dan berjualan kopi telah menghantarkan saya mendapatkan beasiswa LPDP dengan tujuan ke Negeri Kincir Angin. Saya merasa, ini adalah sebuah barokah dari ngopi dan nyethe, barokah karena bekerja untuk masyarakat dan memberdayakan masyarakat pesisir melalui #KopiMangroveSegara. Pesannya adalah:

"Pergilah dan jangan sungkan untuk mengopi karena keberkahan ngopi siapa yang tahu kan?"

Kenapa saya menganggap ini adalah sebuah barokah? Karena percaya atau tidak, selama proses interview berlangsung pembahasan interviewer tidak lepas dari Kopi Mangrove Segara (disini) semua seluk beluk bisnis kami dikupas dari hulu hingga ke hilir, selama interview tidak menyinggung sama sekali tentang rencana studi saya! Bisa se-dulurr bayangkan betapa syiok saya sekaligus bersyukur karena sebenarnya saya sudah menyiapkan sedemikian rupa kemungkinan pertanyaan yang muncul tetapi tidak sesuai prediksi. LoL --- akan saya bagi ceritanya di tulisan selanjutnya tentang interview tak terduga beasiswa LPDP.

Jadi, secara praktis saya hanya seorang penjual kopi, tidak lebih!
Berjualan dan Promosi Kopi Mangrove Segara bersama Prof. Pattrick McNamara
Itu adalah latar belakang saya, muhasabah kenapa saya lulus, dan apa yang menjadi gaman saya untuk beasiswa LPDP sekaligus menjadi jawaban untuk pertanyaan nomor 1 dan 2. Untuk pertanyaan ketiga, apakah LPDP salah pilih awardee seperti saya? Wah kalau ini saya tidak bisa menjawab, pihak LPDP mungkin yang lebih tahu, dan mungkin dulurr-dulurr juga memiliki penilaian sendiri. Ibarat pepatah Jawa "Uwong ora iso noleh githokke" atau manusia tidak bisa melihat dirinya sendiri. Karena jujur, sebernarnya masih banyak orang yang secara kualitas lebih di atas saya, berpengalaman lebih mumpuni, memiliki track record lebih baik, segudang pengalaman dan prestasi yang lebih hebat. Tapi wallahua'lam semua sudah terjadi, sekarang menjadi tugas saya untuk mengemban amanah dengan menyelesaikan studi S-2 saya dengan sebaik mungkin sesuai dengan janji yang saya ikrarkan.

Apapun itu, saya bersyukur atas nikmat dan kejutan ini. Alhamdulillah....

Maka hikmah yang saya dapatkan adalah bangun rekam jejak sedulurr apapun itu bidangnya, lakukan dengan ikhlas, niatkan untuk membangun dan berkontribusi untuk masyarakat. Sekecil apapun kontribusi kita, yakin inshaAllah akan membawa barokah untuk kita semua, dan lakukan kontribusi itu secara kontinyu.

Selamat berjuang dan mari kita bersinergi dulurr....