YSEALI: Persahabatan Bervisi Mie Instant

Young SouthEast Asian Leader Initiative Juorney.

Wilayah Pengelolaan Perikanan Indonesia

Pembagian Potensi Perikanan Indonesia berdasarkan Region.

Romansa Negeri Sakura: Hakone Moutn Shizuoka Perfecture

AFS Intercultural Learning Japan - Kizuna Bond Project.

Pemetaan Mangrove di Sidoarjo dengan Citra Satelit Landsat

Geographic Information System (GIS) and Remote Sensing.

Showing posts with label YSEALI. Show all posts
Showing posts with label YSEALI. Show all posts

Thursday, December 1, 2016

YSEALI: PERSAHABATAN BERVISI MIE INSTAN


Tiga bulan sudah penantian dan persiapan dilakukan untuk mengikuti YSEALI Academic Fellowship Program on Civic Engagement di University of Nebraska at Omaha. Banyak persiapan yang harus dipikirkan dan disiapkan secara matang diantaranya logistik berupa: baju untuk 5 minggu, baju formal, alat mandi, baju adat, obat pribadi dan alat penunjang lainnya. Ehhhhh…… ada satu yang kelupaan dan haram hukumnya untuk tertinggal yaitu mie instan khas Indonesia yang tiada bandingnya di dunia.

Percaya atau tidak, mie instan adalah penyelamat utama kita lohh. No mie, no life itulah kata yang tepat untuk mengibaratkan betapa pentingnya mie instan. Kali ini saya lebih senang memilih Mie Sed*p dan i*do mie goreng dan ayam bawang untuk menemani perjalanan saya selama 5 minggu di negeri Paman Sam.

FACT: Percaya atau tidak, saya membawa 40 bungkus mie instan (hampir sekardus) untuk survive di Amerika. Hahaha

I’ll tell you how important instant noodles are:
  1. Pertama kita datang pas malam hari di Omaha atau ketika malam tiba, dan duiiingin beeerrrr untuk keluar. Lagi pula kita juga takut nyasar karena gatau jalan (alibi saking malesnya keluar). Alternative terbaik adalah nge-mie.
  2. Harga makan di US mahaaal gilaaaa, duit Indonesia serasa gada harganya man. Harga sekali makan bisa minimal 10 dollar lah kali 13.000 = 130.000 sekali makan! Coba bayangin saya kerja panas-panasan sampe item di sawah buat tanam dan panen itu gaji sehari cuma 40.000 maksimal 50.000 dan gacukup buat sekali makan di US -_-. So, you can imagine lah…. Saya merasa sedikit sakit hati dalam kasus ini.
  3. Rasa, rasa makanan di sana uiiihhh butuh adaptasi banget. Lidah orang Indonesia gabakal cocok dengan makanan US secara langsung even itu adalah steak, burger, pizza, spaghetti dll yang tampak enak tapi rasanya gaseperti yang kita bayangkan.
  4. You’ll miss Indonesian food so badly. Dan yang paling simple dan mewakili masakan Indonesia adalah MIE INSTAN. Ada rasa kare, rasa soto, rasa ayam panggang, rasa rendang dll.
And now you know what I’m feeling man! Instant noodles are my savior.
Baiklah saya sudah ceritakan di tulisan sebelumnya, background awal kenapa saya Alhamdulillah bisa ikut YSEALI hal ini Karena Kopi Mangrove Segara. Saya masih dilanda syukur Alhamdulillah atas karunia Allah Tuhan YME atas kepercayaan dan kesempatan yang diberikan untuk program tersebut. Lagi-lagi, apa yang kita alami dan nikmati adalah hutang kepada masyarakat yang harus dibayarkan dengan pengabdian.

Sekali lagi saya ditempatkan di University of Nebraska at Omaha, kampus #Mavericks #UNO bersama 4 orang dari Indonesia (total 5 orang). Mereka adalah orang yang luar biasa dan biasa di luar, penuh dedikasi, pengabdian, dan pengalaman bekerja untuk masyarakat. Let me introduce ehm:
  1. Aidil Andani, Anak Perbatasan (Indonesia-Malaysia) Pontianak: Mahasiswa semester 5 PS Bisnis dan Manajemen Universitas Tanjungpura
  2. Indra Elizar, abang Medan #HORAS: mahasiswa semester tua +++ PS Agroekoteknologi Universias Sumatera Utara (USU)
  3. Muhammad Akbar, Pak Guru SD (not ini apa namanya) di rural area of Palembang, alumni PGSD Universitas Sriwijaya
  4. dr. Arifah Nur Shadrina, bu dokter sholihah mengabdi di rural area of Lumajang, alumni FK UGM Yogyakarta
  5. Ikbar Al Asyari, cah Pesisir Tulungagung aseli. PS Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya Malang.
Dari regional Surabaya saya ditemani oleh embak kece dr. Arifa Shadrina (yang ngakunya orang Jawa tapi gaya Sunda). Sedangkan Aidil, Indra, dan mas Akbar dari regional barat di handle oleh US Embassy Jakarta. Kami berlima menjadi sebuah tim yang tiba-tiba akrab tanpa harus kenal dan ketemu dekat sebelumnya.

Sebuah fakta menarik dari tim Indonesia yaitu semuanya berstatus jomblo akut! Miris bukan???


Kawan, izinkan saya sedikit menguraikan betapa hebat luar baisa rekan setim saya dari Indonesia ini. Mereka telah melakukan pengabdian yang luar biasa bagi masyarakat, jelas mereka bukanlah pemuda-pemudi yang hanya diam dan menyalahkan keadaan. Mereka mau bergerak dan membangun masyarakat.

Pertama kawan saya Aidil Andani Ismail,
Seorang pecinta kopi, shopping holic, orang paling fashionable, dan pernah berkiprah menjadi barista di kafe-kafe Kalimantan.

Kawan saya yang paling banyak kena denda selama program YSEALI, dan paling muda diantara kami semua, masih semester 5 di bisnis dan manajemen Universitas Tanjungpura. Jangan salah! Meskipun masih semester lima Aidil ini merupakan inisiator dari project SBN (Sekolah Batas Negeri) atau state border school yang diimplementasikan di daerah Serawak perbatasan Indonesia-Malaysia. Ide utama dari project ini adalah volunteerism, dengan mengirim relawan untuk mengajar di daerah perbatasan yang cenderung belum tersentuh pembangunan. Yang paling mengagumkan adalah project ini dilakukan secara mandiri! Wow banget

Indra Elizar abang Medan #Horas
Seorang chef handal selama program yang ahli dalam membuat topping, nasi goreng, dan sambal tomat (walaupun rasanya kacau). Dan juga Indra adalah seorang cover boy, silahkan cek Koran Sindo yaaa ;)

Kawan saya yang ini benar-benar aktivis, aktivis tapi pergi ke Bar *Ehhh, hahaha (untuk penelitian/observe maksudnya yaa, bukan buat mabuk-mabukan)

Jadi, Indra adalah mahasiswa pertanian semester +++, alumni Rumah Kepemimpinan (RK) dan ketua umum UKM Penelitian Universitas Sumatera Utara (USU), melanglang buwana dalam jagad perkompetisian LKTI dan tentunya sudah banyak menang kompetisi di tingkat nasional maupun internasional. Selain itu, Indra juga merupkan aktivis dakwah kampus dengan Islamic Book Fairnya yang senantiasa dia dengungkan selama program YSEALI. Abang yang satu ini fans nya banyak banget, dan sangat popular di kalangan mahasiswi USU, Gapercaya? Cek Instagramnya! Kagum lah awak sama abang satu ini.

Mas Akbar Rafsanzani,
Orang yang gabisa lepas dari makan mie. Seorang omnivore kelas atas (kelas 1) yang mampu menggilas apapu itu, termasuk mie instan saya! Dia pelakukanya habis sudah, dan orang yang membuat kamar saya kebaran! Kurang ajar banget kan?

Satu-satunya orang yang ngerasa dirinya ganteng, dan selalu foto dengan pose/gaya yang sama. Seorang instagram addict dengan ratusan fotonya dalam waktu yang sangat singkat, dan selalu dengan pose yang sama.

Mas akbar, jomblo yang selalu ngerasa ganteng. Percuma ganteng kalo jomblo kan? Hmm. Tapi jangan salah, Pak guru (not ini apa namanya) ini bukan orang biasa, dia merupakan produser lagu anak-anak yang diperuntukan untuk anak SD di rural area berada di bawah naungan project “The Villagers”. Selain itu, dia juga banyak berkiprah di event-event keren tingkat nasional dan internasional. Mas Akbar juga merupakan alumni YLI (Young Leader for Indonesia), ICN (Indonesia Cultural Conference) sebagai best project, alumni JENSYS 2.0 on Economic Development 2015, dll.

Bu  dokter Arifah Nur Shadrina
Orang yang paling dewasa diantara kita, perempuan yang sangat bisa mengayomi dan membimbing kita di US. Selain itu beliau juga seperti dokter pribadi bagi seluruh #YSEALIUNO2016. Sosok ini diklaim sebagai salah satu dokter amanah yang dimiliki Indonesia which mean tidak hanya berorientasi mencari profit! Tetapi justru melakukan tugas dokter sebagai bentuk pengabdian. Everyone loves her! I’d say that.

Saya tidak akan bercerita tentang kapabilitas, pengalaman, dan prestasi mbak dokter ini. karena saya tidak punya banyak space dan lagi pula terlalu banyak lohh nanti. Hehe tetapi dokter ini adalah wujud dokter yang penyabar, sensitive (perasa:red), peduli dengan sesama, walaupun sering saya kerjain. Percaya atau tidak, saya pernah membuat dokter ini menangis lohh. MasyhaAllah….. sengaja memang saya kerjain dan setelah itu saya merasa bersalah dan tidak tega melihat air mata ketulusan dokter ini.

Dan dokter ini sangat rendah hati! Beliau sangat rendah hati dengan segala apa yang beliau telah capai dan miliki. Wow banget deh.

Dan yang paling penting, dr. Arifah ini adalah orang yang over positive thinking. Selalu berpikiran positif, meskipun lawan mainnya negatif. Arah dan nuansa bicaranya gampang sekali di tebak, gaya dan nada bicaranya yang over positive itu selalu menuju kea rah yang sama. 

Misalnnya:
Ketika seseorang curhat (mas Akbar biasanya yang setiap saat curhat -_-)

“Mbak ini lhoo anak itu kok begini lalala yeyeye” kata Mas Akbar

“udah yang sabar, engga kok pasti dia itu niatnya baik cuma kita aja yang kurang mengerti” sahut dr. Arifah

Nah, that’s what I called over positive. Selalu bernuansa demikian. Hmmmm….

Kalau saya melihat orang-orang ini, saya jadi terbawa situasi dan atmosfer yang sangat positif. Tidak ada pikiran lain yang terbesit kecuali giving positive impact for the society. Saya menjadi  sangat optimis, era emas dan era kebangkitan macan Asia yang tertidur akan segera tiba kalau pemuda-pemudi kita punya visi dan semangat yang sama untuk membangun masyarakat melalui bidang yang digeluti seperti rekan-rekan saya tersebut. Hal itu, maasih merupakan contoh kecil dari segelintir orang di YSEALI dan masih banyak di luar sana pemuda Indonesia dengan dedikasi yang tinggi tetapi tidak terekspos oleh media.

Konflik? Tentu saja perjalanan 5 minggu tidak berjalan semulus yang dibayangkan. Konflik tetap saja terjadi, baik konflik yang bernuansa natural maupun konflik bernuansa settingan. Akan tetapi, semua konflik berujung damai di meja makan dengan semangkuk indomie dan mie sedap.
Dapat ditarik sebuah kesimpulan dari cerita di atas:

“The best way to practice conflict resolution is by instant noodle as the mediator”

Maksudnya apa? konflik yaa konflik, tetapi tidak ada alasan untuk bermusuhan dan berpecah belah. Kedewansaan sesorang akan dapat dilihat dengan bagaimana dia dealing dengan konflik, dealing dengan masalah. Seperti yang saat ini terjadi di tanah air Indonesia. Konflik mulai bermunculan dengan dasar teologi. Entahlah, apakah konflik tersebut bisa berujung damai hanya dengan semangkuk mie instant?? #ngarep banget. Hihi

Perjalanan dan persahabatan kami semua hanya berujung dengan mie instan yang kami makan setiap hari dengan kondisi dokter Arifah yang selalu marah-marah. Bukan marah sih tapi lebih menasehati supaya tidak makan mie instan dan menjelaskan bahaya makan mie instan. Yang akhirnya dr. Arifah pun juga makan mie instan sesering kita! Aneh………(?)
Aahhhhh dasar para jomblo!!!

To be continued………………

Thursday, November 10, 2016

YSEALI Academic Fellowship Program on Civic Engagement Fall 2016: Semua Karena Kopi!

Sebuah kehormatan bagi saya untuk menjadi salah satu bagian dari jaringan terbesar dan paling inspiratif dari pemuda yang dinobatkan sebagai best and brightest among youth in ASEAN countries (as Dr. Patrick McNamara said). YSEALI (Young South East Asian Leader Initiative) merupakan program yang diinisiasi oleh President Barrack Obama untuk memfasilitasi pemuda calon generasi pemimpin negara ASEAN untuk belajar di universitas di  Amerika sesuai dengan tema/minat yang dipilih yaitu civic engagement, environmental studies, dan socio-economics development. Informasi lebih lengkap mengenai YSEALI mencakup: pengenalan program, bagaimana alur pendaftarannya dapat diakses melalui website resminya YSEALI.
Saya menjadi bagian YSEALI? Apa tidak salah???
Itulah pertanyaan yang saya pikirkan secara mendalam ketika saya dinyatakan lolos mengikuti program YSEALI civic engagement fall program 2016 di University of Nebraska at Omaha. Terpilih menjadi salah satu wakil pemuda Indonesia di program yang paling digandrungi dan diminati oleh mayoritas pemuda Indonesia bahkan ASEAN adalah sebuah hal yang ajaib. Dapat dibayangkan pendaftar YSEALI dari Indonesia setiap batch mencapai ribuan orang (ada informasi 2000 pelamar, tetapi masih simpang siur). Dari ribuan orang tersebut hanya 20-an orang yang dinyatakan lolos untuk berangkat. Dari wilayah regional timur yang dihandle US Embassy of Surabaya ada 10 orang yang lolos yaitu:
1.    Risma Ayu (Mataram) – Civic Engagement Northern Illinois University (NIU),
2.    Via Irmar (Surabaya) – Civic Engagement University of Massachusetts (UMass),
3.    dr. Arifah Nur Shadrina (Jogjakarta) – Civic Engagement University of Nebraska at Omaha (UNO),
4.    Albert Christian Soewongsono (Kupang) – Civic Engagement Nothern Illinois University (NIU),
5.    Fariz Kukuh Harwinda (Kediri) – Environmental Studies East West Centre (EWC) Hawaii,
6.    Afrizal Maarif Imron (Surabaya) - Environmental Studies University of Montana (UMon)
7.    Caroline Natalia Tasirin (Manado) -  Environmental Studies East West Centre (EWC) Hawaii,
8.    Ade Rizal Amasijo (Surabaya) – Socio & Economics Development University of Connecticut (UConn),
9.    Satria Tegar Sadewo (Surakarta) - Socio & Economics Development University of Connecticut (UConn), dan
10. Ikbar Sallim Al Asyari (Cah Tulungagung aseli) - Civic Engagement University of Nebraska at Omaha (UNO).
Itulah segelintir nama yang dinyatakan lolos beserta asal daerah dan institusi dimana program akan dilakukan. Pada dasarnya, orang yang dinyatakan lolos untuk mengikuti YSEALI adalah orang yang menurut saya keren sekali dan sudah memberikan dampak bagi masyarakat melalui social project yang telah dilakukan. Tidak akan ada habisnya kalau saya menguraikan apa saja yang telah dilakukan teman-teman bagi masyarakat. They’re totally amazing!

YSEALI Fall Program 2016 Regional Surabaya
Saya sendiri terpilihkan di kampus #Mavericks University of Nebraska at Omaha (UNO) bersama mbak saya yang super sholehah, sabar, dewasa, dan mengayomi adik-adiknya yaitu dr. Arifah Shadrina. Saya ambil sampel satu yaa bro :) See how impressive they are.
Iyaa, dr. Arifah Nur Shadrina, beliau adalah dokter (MD) alumni UGM yang mengabdikan diri di remote area, yaitu di daerah Lumajang Jawa Timur. Sedikit saya ceritakan background beliau (Karena saya lebih sering ngobrol dengan beliau dibanding 9 orang lainnya, hehe *maaf yaaa). Beliau adalah dokter dengan pemikiran yang revolusioner dengan segudang prestasi yang jarang orang tahu. Beliau aktif menjadi peneliti, aktivis, merajahi banyak kompetisi LKTI, business plan, olimpiade, international conference, students exchange, hingga beliau dinobatkan sebagai MAWAPRES Utama UGM tahun 2012! Keren banget kan, dan yang paling penting beliau initiator gerakan Indonesia Cerdas. Sebuah gerakan yang berfokus pada penyadaran dibidang kesehatan bagi masyarakat Indonesia. Subhanallah banget dehh…..
I’ll tell you something so secret vroohhh….
It’s only between you and me. Deal?
Bu dr. Arifah ini masih jomblo alias single brooo. Hahaha *Upppsss peace yaa*
As I said, I told you already brohh. They’re completely amazing!
Rasanya hanya saya aja yang paling kecil diantara mereka. Anak pesisir Tulungagung yang sangat beruntung bisa menjadi bagian keluarga ini. Baiklah, saya akan coba sedikit uraikan muhasabah yang saya lakukan dengan modal pertanyaan, kok bisa saya lolos??? Dan menjadi orang yang diberikan amanah untuk program YSEALI.
Jadi, untuk mendaftar YSEALI ada beberapa admission yang harus dilengkapi seperti: 1.) formulir pendaftaran, 2.) surat rekomendasi, 3.) motivation letter. Saya akan coba berbagi keberuntungan dengan menguraikan apa saja yang saya coba tulis dan deskripsikan pada proposal pendaftaran tersebut.
Pertama, formulir pendaftaran: formulir pendaftaran dapat diunduh pada website yseali dari US Embassy. Beginilah tampilan formulir tersebut.
Ada cerita menarik pada fase ini. Saya merupakan salah satu peserta nyasar di YSEALI Civic Engagement. Kenapa demikian? Dalam proses pendaftaran, ada kolom pada formulir untuk menentukan pilihan tema apa yang kita inginkan ada 3 tema besar. Nah, saat saya mendaftar saya memutuskan untuk mengambil Environmental Studies. Hal ini disesuaikan dengan passion dan project yang selama ini kita tekuni, background saya, S-1 saya Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya focus pada pengembangan dan management pesisir. Di formulir kita akan menemukan kolom seperti ini:
Formulir yang saya dapati justru tidak ada pilihan environment, harusnya ada 3 pilihan tetapi hanya ada 2 pilihan yaitu civic engagement dan socio-economics development. Dengan seadanya saya memilih civic engagement dengan mindset program environmental studies. Haha. Dan memang benar, setelah saya mengikuti program di UNO apa yang saya pelajari berbeda jauh dengan apa yang saya bayangkan. Jadi, dapat dikatakan keberadaan saya di YSEALI adalah bisa dibilang “faktor ketidaksengajaan”.
Kedua, surat rekomendasi
Surat rekomendasi Saya dapatkan H-1 sebelum pendaftaran ditutup *Waaduh mepeet banget Gan! Saya mendapatkan surat rekomendasi dari Yayasan Cendekia Nusantara ditandatangani direkturnya Pak Abdul Mukhosis. Nah, surat rekomendasi ini menceritakan tentang diri kita. Kebetulan saya memang terlibat project bersama yayasan tersebut. Kita mengerjakan pemberdayaan masyarakat di Pesisir Selatan Tulungagung tepatnya di Pantai Sine dengan membuat produk “Kopi Mangrove Segara”.
Kopi Mangrove Segara

Program pemberdayaan ini merupakan hasil kerjasama antara Redirect Indonesia, Leshutama, dan PAC Kalidawir. Program ini meliputi 3 aspek besar yaitu:
1.    Ekonomi
Program ini didesain dengan konsep sosial bisnis, dengan memberdayakan masyarakat untuk mengangkat taraf ekonomi masyarakat. Orientasi keuntungan dengan sister bagi hasil
2.    Sosial
Konsep sosial yang diterapkan adalah berupa civic engagement. Kami mengajak masyarakat untuk ikut aktif dalam penyadaran akan pentingnya menjaga lingkungan. Kami mencoba menghidupkan local wisdom yang ada karena akan sangat berpengaruh dalam aspek sosial ini.
3.    Lingkungan
Konsep lingkungan diselaraskan dengan tujuan ekonomi. Semakin banyak mangrove yang diambil dan diolah semakin banyak mangrove yang ditanam. Restorasi dan konservasi hutan mangrove menjadi tujuan lingkungan untuk mendukung sisi ecologi dan sisi produksi.
Bermodal dari kerjasama itulah surat rekomendasi itu dibuat. Lagi-lagi apa yang sudah saya lakukan bersama tim bukanlah sesuatu yang waahh dan cetar-membahana. Dibandingkan dengan peserta YSEALI atau bahkan pemuda Indonesia yang lain, kami masih sangat jauh tertinggal dan tidak ada apa-apanya.
Ketiga, motivation letter
Surat motivasi ini adalah tulisan yang berisi motif kita mengikuti program. Saya hanya menceritakan alasan saya mengikuti program, dampak yang akan saya terima setelah program, dan dampak yang akan di terima masyarakat setelah mengikuti program. Secara umum tidak ada yang menonjol dan spesial (menurut saya) pada bagian ini. Hanya saja, saya mencoba menjawab sejujur-jujurnya dan memberikan alasan secara logis dan rasional.
Begitulah kira-kira kenapa saya bisa lolos YSEALI, jujur saja saya baru pertama kali mendaftar program YSEALI dan alhamdulillah puji syukur langsung lolos. Secara praktis, saya mengikuti program YSEALI mungkin karena Kopi Mangrove Segara dan mewakili Redirect Indonesia, Leshutama, dan PAC Kalidawir.
Ada guyonan yang beredar dari teman-teman tentang program ke Amerika ini:
A: “Bro ente ke US? Kok bisa?
S: “Yoi mas bro, alhamdulillah barokahnya ngopi ini mas bro”
A: “Wah kalau begitu ak tak rajin-rajin ngopi ya bro, biar ketularan, haaha”  

Lembaga Pengelola KPM Segara: Redirect Indonesia, Leshutama, PAC Kalidawir

Isu yang beredar di masyarakat sekitar rumah saya, saya ke Amerika itu karena “Barokahe ngopi” atau berkah dari ngopi. Karena memang Tulungagung terkenal akan warung cethe (semacam ngopi yang ada ampasnya megendap di bawah), dengan kearifan lokal itu warga gemar sekali ngopi dan nongkrong di warung kopi sambil diskusi. Saya termasuk orang yang rajin ngopi, diskusi, dan sharing bersama teman-teman. Dapat diambil quote dari perjalanan ke Amerika saya:

“Kalau anda ingin sukses, rajin-rajin lah anda ke warung kopi. Keberkahan ngopi siapa yang tahu kan?”

Maksudnya adalah ketika berada di warung kopi yang kita lakukan adalah diskusi bedah buku, sharing ide kreatif, sharing bisnis, project dll. Nah, hanya bermodalkan Rp3.000 rupiah kita bisa mendapatkan inspirasi untuk kedepannya. Jadi, sambil ngopi sambil melakukan kegiatan yang produktif mencari inspirasi. Yang dilakukan tim KPM Segara dengan Kopi Mangrove Segara lebih jauh lagi. Kami tidak hanya sekedar hobi ngopi dan diskusi, tapi kami membuat kopi. Kopi alternatif kreatif kaya manfaat dari peisisir terbuat dari buah mangrove dengan konsep pemberdayaan masyarakat pesisir dan Kopi Mangrove Segara sudah mendunia.
Kopi Mangrove Segara Mendunia: US Capitol Building

  Pada implementasinya saya tidak sendiri dalam project ini. Ada 4 orang lain  sangat hebat dan super struggle yang menggawangi KPM Segara yaitu:
1.    Pak Adib Hasani (Kepala Unit Produksi)
2.    Pak Ahmad Shoim (Koordinator Program Lapang)
3.    Mbak Atik Hasanah (Kepala Administrasi dan Funding)
4.    Pak Abdul Mukhosis (Kepala Bidang Public Relation dan Partnership)
Jujur karena orang hebat itu Kopi Mangrove Segara bisa mendunia dan berangkat ke Amerika melalui program YSEALI Academic Fellowships Program.
Berawal dari ngopi, membuat kopi, dan melakukan program kopi di Kecamatan Kalidawir, Kabupaten Tulungagung.
Iyaa semua karena kopi, dari yang awalnya nongkrong menjadi diskusi, dilanjutkan menjadi bedah buku, sharing pengalaman, melakukan project kegiatan bersama hingga menjadi sebuah bisnis yang establish yang orang kekinian menyebutnya social-enterprise. Maka, dengan kebersamaan ngopi yang sudah ada project dan agenda kedepan akan tetap dilaksanakan…….



Bersambung……