YSEALI: Persahabatan Bervisi Mie Instant

Young SouthEast Asian Leader Initiative Juorney.

Wilayah Pengelolaan Perikanan Indonesia

Pembagian Potensi Perikanan Indonesia berdasarkan Region.

Romansa Negeri Sakura: Hakone Moutn Shizuoka Perfecture

AFS Intercultural Learning Japan - Kizuna Bond Project.

Pemetaan Mangrove di Sidoarjo dengan Citra Satelit Landsat

Geographic Information System (GIS) and Remote Sensing.

Thursday, October 9, 2014

STUDI: Pengaruh Lintang Tempat terhadap Variasi Iklim di Permukaan Bumi



2.1  Definisi Iklim dan Cuaca

                 Iklim adalah rata-rata cuaca dalam suatu wilayah yang luas dalam kurun waktu yang panjang. Sedangkan Cuaca adalah keadaan atmosfer yang dominan pada saat dan wilayah tertentu yang relatif sempit, dan biasanya cuaca terjadi dalam kurun waktu yang sangat singkat. Dari iklim dan cuaca tentu sangat berhubungan dengan musim. Musim adalah keadaan rata-rata cuaca yang dominan yang terjadi pada suatu wilayah tertentu secara terus menerus dalam kurun waktu 1 tahun (Sita, 2012).
            Cuaca dan iklim muncul setelah berlangsung suatu proses fisik dan dinamis yang kompleks yang terjadi di atmosfer bumi. Kompleksitas proses fisik dan dinamis diatmosfer bumi ini berawal dari perputaran planet bumi mengelilingi matahari dan perputaran bumi pada porosnya. Pergerakan planet bumi ini menyebabkan besarnya energi matahari yang diterima oleh bumi tidak merata,  sehingga secara alamiah ada usaha pemerataan  energi yang berbentuk suatu sistem peredaran udara, selain itumatahari dalam memancarkan  energi  juga  bervariasi  atau  berfluktuasi dari waktu   ke waktu (Winarso, 2003).
          Dalam pengertian lain Iklim merupakan konsep yang Abstrak, dimana iklim adalah komposit dari keadaan cuaca dari hari ke hari dan elemen atmosfer yang sangat luas dan terjadi dalam  kurun waktu yang cukup panjang. Perlu diketahui bahwa ilmu yang mempelajari tentang iklim disebut Klimatologi, sedangkan ilmu yang mempelajari tentang keadaan cuaca disebut Meteorologi (Bonggo, 2012).

2.2  Unsur Penyusun Iklim

 Adapun unsur – unsur iklim menurut Winarso (2003) adalah sebagai berikut:
a.    Suhu Udara
    Suhu dapat didefinisikan sebagai tingkat gerakan molekul benda, makin cepat gerakan molekul, makin tinggi suhunya.     Suhu atau temperatur udara merupakan kondisi yang dirasakan di permukaan Bumi sebagai panas, sejuk atau dingin. Permukaan Bumi menerima panas dari penyinaran Matahari berupa radiasi gelombang elektromagnetik. Radiasi sinar matahari yang dipancarkan ini tidak seluruhnya sampai ke permukaan Bumi. Hal ini dikarenakan pada saat memasuki atmosfer, berkas sinar matahari tersebut mengalami pemantulan (refleksi), pembauran (scattering), dan penyerapan (absorpsi) oleh material-material di atmosfer. Persentase jumlah pemantulan dan pembauran sinar Matahari oleh partikel atmosfer ini dinamakan albedo. Pada saat memasuki atmosfer, sekitar 7% energi sinar Matahari langsung dibaurkan kembali ke angkasa, 15% diserap oleh partikel-partikel udara dan debu atmosfer, 24% dipantulkan oleh awan, dan 3% diserap oleh partikel-partikel awan. Jadi, persentase albedo sinar Matahari oleh atmosfer adalah sekitar 49%, sedangkan yang sampai di permukaan Bumi hanya 51%. Energi Matahari yang sampai di permukaan Bumi ini kemudian dipantulkan kembali sekitar 4%. Jadi, jumlah keseluruhan energi Matahari yang diserap muka Bumi adalah sekitar 47%.
Pengaruh langsung yang dirasakan di Bumi sebagai akibat radiasi Matahari adalah adanya perbedaan suhu udara di berbagai tempat. Faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan temperatur antara lain sebagai berikut.
1.      Lama penyinaran matahari.
2.      Sudut datang sinar matahari.
3.      Relief permukaan bumi.
4.      Banyak sedikitnya awan.
5.      Perbedaan letak lintang
b.  Tekanan udara
     Tekanan udara menunjukkan tenaga yang bekerja untuk menggerakkan masa udara dalam setiap satuan luas tertentu. Tekanan udara semakin rendah apabila semakin tinggi dari permukaan laut.
c.  Kelembaban Udara
Ada dua macam kelembaban udara, antara lain :
1.    Kelembaban Udara Absolut
Kelembaban udara absolut ialah banyaknya uap air yang terdapat di udara pada suatu tempat. Dinyatakan dengan banyaknya gram uap air
dalam 1 m³.
2.    Kelembaban Udara Relatif
        Kelembaban udara relatif, ialah perbandingan jumlah uap air dalam udara (kelembaban absolut) dengan jumlah uap air maksimum yang dapat dikandung oleh udara tersebut dalam suhu yang sama dan dinyatakan dalam persen (%).
d.   Angin
Angin ialah gerak udara yang sejajar dengan permukaan bumi. Udara bergerak dari tekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah. Angin merupakan gerak akibat/penyeimbang di dalam kumpulan partikel-partikel udara
e.  Awan
 Awan terjadi dari kondensasi pada permukaan tanah terutama pada waktu malam hari saat tanah menjadi dingin akibat radiasi yang hilang.
f.  Hujan
Curah hujan merupakan unsur iklim yang sangat penting bagi kehidupan di bumi. Jumlah curah hujan dicatat dalan inci atau millimeter (1 inci = 25,4 mm).
  Terciptanya variasi iklim yang bermacam – macam di permukaan bumi merupakan anugrah yang tidak tergantikan, semua terjadi karena adanya beberapa faktor yang menyebabkan semua itu bisa terjadi, antara lain :
a.    Kedudukan Bumi terhadap matahari karena matahari adalah sumber utama energi dibumi, yang mengakibatkan adanya Revolusi dan Rotasi.
b.    Lintang Tempat menggambarkan sebaran daratan di permukaan bumi yang dikaitkan dengan sinar matahari. Dan hal ini yang akan kami jelaskan lebih mendalam
c.    Ketinggian tempat hal ini di pengaruhi oleh permukaan bumi yang kasar sehingga ketinggian tempat juga beragam.
d.    Distribusi daratan dan lautan di karenakan daratan dan lautan memiliki perbedaan dalam menerima energy dari matahari, misalkan terjadinya angina darat dan laut.
Dari beberapa faktor itulah kenapa Variasi iklim di permukaan bumi dapat terjadi dan tentunya memberikan peran masing – masing dari faktor tersebut dalam kehidupan manusia sehari – hari, yang sering kita tidak menelaah kenapa semua itu bisa terjadi. 

2.3  Lintang Tempat terhadap Variasi Iklim di Permukaan Bumi

     Dari penjelasan singkat di atas tentu kita sudah mengetahui sedikit tentang beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya variasi iklim di permukaan bumi, salah satunya yaitu faktor lintang tempat yang akan kita pelajari lebih dalam.
a.    Pengertian Lintang Tempat
Berkaitan dengan garis lintang tentu kita sudah sering mendengarnya, apa itu Lintang Selatan (LS) atau Lintang Utara (LU). Garis lintang adalah garis maya yang melingkari bumi yang di tarik dari arah barat hingga ke timur atau sebaliknya, yang sejajar dengan garis equator atau garis katulistiwa ( Fahri, 2009).

 Dari garis itu mengakibatkan garis lintang terus melingkari bumi sampai kutub utara dan kutub selatan bumi. Menurut penamaannya kelompok garis yang berada di sebelah selatan. Equator atau khatulistiwa disebut garis Lintang Selatan ( LS ), dan kelompok garis yang berada disebelah utara equoator atau khatulistiwa disebut garis Lintang Utara (LU). 
Dalam pengertian lain  Lintang Tempat adalah jarak antara tempat yang bersangkutan dengan khatulistiwa. Garis lintang di hitung mulai dari khatulistiwa ke utara dan ke selatan dari 0o sampai 90o (Hamjat, 2011).
            Menurut Falakiyah (2012) mengatakan bahwa lintang tempat adalah jarak antara khatulistiwa sampai garis lintang yang melewati suatu tempat diukur sepanjang garis meridian. Dalam ilmu falaq disebut Ardlul Balad atau latitude dan biasanya di lambangkan dengan ö (phi).
Adanya Garis lintang tersebut menandakan pembagian Zona – Zona dibumi karena mengambarkan sebaran daratan dipermukaan bumi yang dikaitkan dengan sinar matahari dan berdasarkan garis lintang zona tersebut di bagi menjadi tiga yaitu : Zona Kutub, Zona Sub-tropis, dan Zona Tropis. Rotasi tidak tepat pada poros antara kutub utara dan selatan serta tidak tepat tegak lurus sehingga matahari bergerak seolah – olah keutara dan keselatan.
b. Hukum Lambert
“Berdasarkan hukum Lambert (Lambert’s Cosine Law), kerapatan aliran energi cahaya yang diterima per satuan luas permukaan akan mencapai maksimal jika berkas cahaya  jatuh tegak lurus terhadap permukaan tersebut”. Karena bumi berbentuk bulat, maka sesuai dengan hukum Lambert, kerapatan aliran energi cahaya yang diterima per satuan luas permukaan di daerah sekitar equator akan lebih tinggi dibanding dengan daerah pada garis lintang yang lebih tinggi, baik pada belahan bumi Utara maupun Selatan dan terendah di daerah kutub.
Revolusi dan rotasi bumi  menyebabkan seluruh permukaan bumi secara bergantian  dapat menerima cahaya matahari. Sumbu perputaran bumi selama peredarannya tidak selalu pada posisi tegak lurus terhadap  arah cahaya matahari (garis yang menghubungkan titik kutub Utara dengan titik kutub Selatan tidak selalu pada posisi tegak lurus terhadap garis yang menghubungkan titik pusat lingkaran bumi dengan titik pusat lingkaran matahari). Secara teratur, sumbu perputaran bumi akan bergerak ke kiri dan ke kanan membentuk sudut maksimum sebesar hampir 23,50 dari posisi tegak lurusnya.

2.4 Pembagian daerah iklim berdasarkan letak lintang

               Menurut Admin (2010) Pembagian daerah iklim berdasarkan lintang        tempat antara lain :
1.   Daerah iklim tropis / Zona Tropis
 Daerah ini terletak antara 0° - 23½° LU dan 0° - 23½° LS sepanjang waktu matahari bersinar pada siang hari. Jenis iklim tropis dipengaruhi oleh 2 angin musim, yang menyebabkan adanya musim kemarau dan musim hujan. Ciri – ciri iklim tropis adalah sebagai berikut :
a)     Suhu udara rata – rata tinggi, karena matahari selalu vertikal. Umumnya suhu udara antara 20° - 23° C. Bahkan dibeberapa tempat suhu tahunannya mencapai 30°C.
b)     Amplitudo suhu rata – rata tahunan kecil. Di khatulistiwa antara 1° - 5° C, sedangkan amplitudo hariannya besar.
c)     Tekanan udara lebih rendah dan perubahannya secara perlahan dan beraturan.
d)     Hujan banyak dan umumnya lebih banyak dari daerah lain di dunia.
e)     Didaerah ini hanya dikenal oleh 2 musim yaitu musim penghujan dan musim panas.
2.   Daerah iklim Zona Sub - Tropis
Iklim subtropis terletak antara 23½° - 40° LU dan 23½° - 40° LS. Daerah ini merupakan peralihan antara iklim tropis dan iklim sedang. Ciri – ciri iklim subtropis adalah sebagai berikut:
a)  Batas yang tegas tidak dapat ditentukan dan merupakan daerah  peralihan dari daerah iklim tropis dan iklim sedang.
b)  Terdapat empat musim, yaitu musim semi, musim panas, musim gugur, dan musin dingin. Tetapi pada iklim ini musim panas tidak terlalu panas dan musim dingin tidak terlalu dingin.
c)  Suhu sepanjang tahun tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin.
d)    Daerah subtropis yang musim hujannya jatuh pada musim dingin dan musim panasnya kering disebut daerah Iklim Mediterania. Jika hujan jatuh pada musim panas dan musim dinginnya kering disebut Daerah Iklim Tiongkok.

3.   Daerah iklim dingin/ Zona Kutub
Iklim dingin terdapat di daerah kutub. Oleh sebab itu iklim ini disebut pula sebagai iklim kutub. Iklim dingin dapat dibagi dua, yaitu iklim tundra dan iklim es.
Ciri – ciri iklim tundra adalah sebagai berikut :
a)     Musim dingin berlangsung lama
b)     Musim panas yang sejuk berlangsung singkat.
c)     Udaranya kering.
d)     Tanahnya selalu membeku sepanjang tahun.
e)     Di musim dingin tanah ditutupi es dan salju.
f)      Di musim panas banyak terbentuk rawa yang luas akibat mencairnya es di permukaan tanah.
g)     Vegetasinya jenis lumut-lumutan dan semak-semak.
h)     Wilayahnya meliputi: Amerika utara, pulau-pulau di utara Kanada, pantai selatan Greenland, dan pantai utara Siberia.

2.5  Pengaruh iklim bagi kehidupan manusia

 Dari variasi iklim yang ada tentunya akan memberikan dampak negatif maupun positif dalam kehidupan manusia, maka dari itu iklim sangat berperan dalam kelangsungan hidup kita.
Iklim akan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia dan organisme lain yang ada dimuka bumi. Oleh sebab itu pengetahuan iklim sangat dibutuhkan. Dalam kehidupan sehari – hari iklim akan dijadikan bahan pertimbangan rancang bangunan hunian dan kontruksi bangunan fisik lainnya bahan dan desain jenis pakaian dan porsi pangan yang dikonsumsi, dan ragam aktivitas sosial budaya yang dilakukan penduduk.
Menurut Benyamin ( 1997) iklim juga dapat mempengaruhi jenis tanaman yang sesuai untuk dibudidayakan pada suatu kawasan, penjadwalan budidaya perikanan dan teknik Budidaya yang di lakukan nelayan yang berkaitan dengan pengetahuan Klilmatologi. Manfaat di bidang pelayaran dan penerbangan juga sangat penting sekali. Dan masih banyak lagi manfaat – manfaat yang lain dari adanya Iklim, diantaranya :
1.  Pengaruh terhadap jenis pakaian
Penduduk di daerah tropik, menggunakan pakaian yang relatif tipis, karena suhu di daerah ini panas. Di daerah gunung penduduk menggunakan pakaian yang relatif tebal. Di daerah beriklim sedang penduduk menggunakan pakaian yang tebal menutup seluruh tubuh.
2.  Pengaruh terhadap bentuk rumah
Rumah-rumah di daerah pantai atau dataran rendah daerah tropis, biasanya banyak ventilasinya, genting terbuat dari tanah. Pada daerah pegunungan yang tinggi yang suhunya dingin, rumah biasanya mempunyai ventilasi yang sedikit dan atapnya banyak terbuat dari seng. Di daerah sedang, rumah hanya sedikit membutuhkan ventilasi bahkan pada saat musim dingin mereka memerlukan penghangat. Agar ruangan tetap hangat, mereka menggunakan tungku penghangat atau mesin pemanas (heater).
3.   Pengaruh terhadap mata pencaharian
Para nelayan, terutama nelayan tradisional, banyak yang memanfaatkan angin darat untuk melaut dan memanfaatkan angin laut untuk mendarat. Pada nelayan modern, mereka sudah tidak terpengaruh oleh cuaca, karena mereka dapat menggunakan perahu bermotor. Penduduk di daerah dataran rendah memanfaatkan awal musim penghujan untuk pengolahan tanah pertanian. Sedangkan penduduk di daerah pegunungan sebagian besar bercocok tanam sayuran

DAFTAR PUSTAKA

Benyamin, 1997. Dasar – dasar Klimatologi. Jakarta : PT Grafindo Persada
Bonggo, Sura Diraja. 2010. Variasi Iklim di Permukaan Bumi. http://ronsleo90.blogspot.com/2010/09/variasi-iklim-di-permukaan-bumi.html
Falakiyah. 2012. Lintang dan Bujur Tempat. http://falakiyah.wordpress.com/lintang-dan-bujur-tempat-2/
Hamjat, Jaswardi. 2011. Koordinat di Bumi. http://jaswardi-hamjat.blogspot.com/
         Panjaitan.2009. Meteorologi.http://quickquack.wordpress.com/category/meteorology
Sita, 2012. Catatan Anak Kelautan. Universitas Erlangga : Surabaya
Sonjaya, Irman. Pengenalan Meteorologi. Dalam presentasi

TAHUKAH ANDA??? 10 NEGARA DENGAN JUMLAH SPESIES IKAN TERBANYAK DI DUNIA

10 NEGARA DENGAN JUMLAH SPESIES IKAN TERBANYAK DI DUNIA


Tahukah anda negara mana saja di dunia ini yang punya keberagaman yang terbanyak?
Berapa jumlah spesies ikan yang ada di negara tersebut?

Data berikut diambil dari Fish Base melalui website resmi fishbase atau dengan software resmi bernama fishbase. Baik berikut merupakan daftar negara dan jumlah spesies yang ada:

DAFTAR URUTAN 10 NEGARA di DUNIA DENGAN JUMLAH JENIS IKAN TERTINGGI

NO
NAMA NEGARA
JUMLAH SPESIES
1.
Australia
4971
2.
Indonesia
4743
3.
Brazil
4407
4.
Japan
4121
5.
China
3558
6.
The Philippine
3490
7.
Papua New Gene
2865
8.
Vietnam
2546
9.
Thailand
2282
10.
South Afrika
2112

Wednesday, October 8, 2014

PEMETAAN MANGROVE MENGGUNAKAN DATA SATELIT LANDSAT Studi Kasus : Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo

PEMETAAN MANGROVE MENGGUNAKAN DATA SATELIT LANDSAT
Studi Kasus : Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo

Disusun oleh:
Ikbar Sallim Al Asyari                      (125080600111016)



PENDAHULUAN

1.1.            Latar Belakang

Salah satu ekosistem pesisir yang mengalami tingkat degradasi cukup tinggi akibat pola pemanfaatannya yang cenderung tidak memperhatikan aspek kelestariannya adalah hutan mangrove. Hutan mangrove merupakan salah satu sumberdaya pesisir yang berperan penting dalam pembangunan. Melihat gejala perusakan hutan mangrove untuk berbagai kepentingan tersebut maka perlu dilakukan pengelolaan hutan mangrove secara lestari. Untuk dapat melakukan pengelolaan hutan mangrove secara lestari diperlukan pengetahuan tentang nilai strategis dari keberadaan hutan mangrove yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Pengelolaan sumberdaya kelautan berbasis masyarakat merupakan salah satu strategi pengelolaan yang dapat meningkatkan efisiensi dan keadilan dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya alam (Raymond, 2010).
Luas hutan mangrove Indonesia menurut Departemen Kehutanan pada Tahun 1982 sekitar 4,25 juta ha. Hasil Inventarisasi Hutan Nasional yang dilakukan oleh Departemen yang sama menyebutkan bahwa luas hutan mangrove Indonesia pada tahun 1996 tinggal 3,53 juta ha. Dengan demikian dalam kurun waktu 14 Tahun Indonesia telah kehilangan hutan mangrove sekitar 700 ribu ha dan hal ini terjadi hampir di seluruh kepulauan Indonesia. Seiring dengan waktu terjadi degradasi yang hutan, hutan yang awalnya mangrove berubah menjadi lahan terbuka untuk tambah, perumahan dll.
Kerusakan ekosistem hutan mangrove di pesisir Pulau Jawa misalnya, semakin cepat berlangsung seiring dengan bertambahnya usaha-usaha perekonomian yang lebih mengarah pada daerah pantai. Perubahan-perubahan yang dilakukan terhadap daerah pesisir telah mengorbankan ribuan hektar kawasan mangrove sehingga banyak areal mangrove yang tidak berfungsi lagi sebagaimana mestinya. Kerusakan ini sebagian besar disebabkan oleh tekanan manusia dalam memanfaatkan dan membabat mangrove untuk usaha pertambakan, perindustrian, pertanian, pemukiman, dan tempat rekreasi, serta sebagian kecil karena bencana alam (banjir, kekeringan, dan badai tsunami) serta serangan hama penyakit (Purnobasuki, 2005).
Dengan fakta diatas, saat ini perku dilakukan tindakan untuk mengembalikan dengan proses restorasi ekosistem mangrove seperti sedia kala untuk menjadi penyokong ekosistem lain yang ada di pesisir maupun laut khususnya di kecamatan Sedati, kabupaten Sidoarjo.

1.2.            Rumusan Masalah

‘Rumusan masalah dari laporan persebaran mangrove di kecamatan Sedati, kabupaten Sidoarjo adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana kondisi mangrove di kecamatan Sedati, kabupaten Sidoarjo?

1.3.            Tujuan

Tujuan yang ingin dicapai dari laporan persebaran mangrove di kecamatan Sedati, kabupaten Sidoarjo adalah untuk mengetahui luasan persebaran mangrove di kecamatan Sedati, kabupaten Sidoarjo melalui penginderaan jauh kelautan dengan mengolah hasil citra satelit Landsat ETM 8 pada tanggal 13 Agustus 2013.

1.4.            Manfaat

Manfaat dari penulisan laporan dari laporan persebaran mangrove di kecamatan Sedati, kabupaten Sidoarjo adalah dapat digunakan sebagai rujuan luasan persebaran mangrove di kecamatan Sedati, kabupaten Sidoarjo terkini yaitu pada tanggal 13 Agustus 2013.

1.5.            Tempat dan Waktu

Tempat yang dipilih untuk diidentifikasi kerapatan mangrovenya adalah kecamatan Sedati, kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Pengambilan citra satelit dengan mendownload citra satelit pada tanggal 13 Agustus 2013.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1.1.           Mangrove

1.1.1.      Pengertian mangrove

Hutan mangrove merupakan salah satu sumberdaya pesisir yang berperan penting dalam pembangunan. Kawasan mangrove sebenarnya mempunyai peranan yang sangat penting bagi manusia dan hewan yang hidup di dalamnya atau sekitarnya, bahkan bagi mahluk hidup yang hanya tinggal untuk sementara waktu. Mangrove adalah sebutan umum untuk menggambarkan suatu komunitas pantai tropis yang didominasi oleh beberapa spesies pohon yang khas hidup di zona intertidal pertemuan antara pasang dan surut air laut (Nybakken, 1998).
Mac Nae (1968) mengatakan mangrove adalah kata yang digunakan untuk menyebut jenis pohon-pohon atau semak-semak yang tumbuh diantara batas air tertinggi saat pasang dan batas terendah saat air surut hingga di atas rata-rata permukaan laut. Hutan mangrove adalah suatu kelompok  jenis tumbuhan berkayu yang tumbuh di sepanjang garis pantai tropika dan subtropika yang terlindung dan memiliki semacam bentuk lahan pantai dengan tipe tanah anaerob.

1.1.2.      Fungsi Mangrove

Berbagai fungsi dan manfaat hutan mangrove bagi manusia dan lingkungan sekitarnya telah diketahui secara umum. Mangrove, magal, bakau, hutan pantai, dan hutan api-api adalah sebutan untuk komunitas tumbuhan pantai yang memiliki adaptasi khusus. Mangrove memegang peranan penting untuk kehidupan laut. Secara ekologis, hutan mangrove dapat menjamin terpeliharanya lingkungan fisik, seperti penahan ombak, angin dan intrusi air laut, serta merupakan tempat perkembangbiakan bagi berbagai jenis kehidupan laut seperti ikan, udang, kepiting, kerang, siput, dan hewan jenis lainnya. Disamping itu, hutan mangrove juga merupakan tempat habitat kehidupan satwa liar seperti monyet, ular, berang-berang, biawak, dan burung. Adapun arti penting hutan mangrove dari aspek sosial ekonomis dapat dibuktikan dengan kegiatan masyarakat memanfaatkan hutan mangrove untuk mencari kayu dan juga tempat wisata alam. Selain itu juga sebagai kehidupan dan sumber rezeki masyarakat nelayan dan petani di tepi pantai yang sangat tergantung kepada sumberdaya alam dari hutan mangrove (Raymond, 2010)
Disisi lain, mangrove memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan dunia sebagai ekosistem penyangga dan abosorben karbon di atmosfer yang saat ini sangat tinggi kadarnya. Ekosistem ini mempunyai fungsi spesifik yang keberkelangsungannya bergantung pada dinamika yang terjadi di ekosistem daratan dan lautan. Dalam hal ini, mangrove sendiri merupakan sumberdaya yang dapat dipulihkan (renewable resources) yang menyediakan berbagai jenis produk (produk langsung dan produk tidak langsung) dan pelayanan lindungan lingkungan seperti proteksi terhadap abrasi, pengendali intrusi air laut, mengurangi tiupan angin kencang, mengurangi tinggi dan kecepatan arus gelombang, rekreasi, dan pembersih air dari polutan. Kesemua sumberdaya dan jasa lingkungan tersebut disediakan secara gratis oleh ekosistem mangrove (Kusmana, 2009).

1.1.3.      Tipe Vegetasi Mangrove

Menurut Noor et al. (1999) tipe vegetasi mangrove terbagi atas empat bagian antara lain:
1.        Mangrove terbuka, mangrove berada pada bagian yang berhadapan dengan laut.
2.        Mangrove tengah, mangrove yang berada di belakang mangrove zona terbuka.
3.        Mangrove payau, mangrove yang berada disepanjang sungai berair payau hingga air tawar.
4.        Mangrove daratan, mangrove berada di zona perairan payau atau hampir tawar di belakang jalur hijau mangrove yang sebenarnya.

1.1.4.      Penginderaan Jauh

Menurut Lillesand dan Kiefer (1979), Penginderaan Jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang obyek, daerah, atau gejala dengan jalan menganalisis data yang diperoleh dengan menggunakan alat tanpa kontak langsung terhadap obyek, daerah, atau gejala yang dikaji. Penginderaan jauh (remote sensing) digunakan untuk memmbantu dalam berbagai penelitian. Penginderaaan Jauh juga dapat diartikan suatu pengukuran atau perolehan data pada objek di permukaan bumi dari satelit atau instrumen lain di atas atau jauh dari objek yang diindera.
Penginderaan jauh memiliki komponen yang ada di dalamnya. Komponen ini keberadaanya dalam penginderaan jauh adalah mutlak. Komponenya adalah sebagai berikut:
1.                  Tenaga untuk penderaan
2.                  Atmosfer
3.                  Interaksi tenaga dengan objek
4.                  Sensor sebagai alat pengindera
5.                  Pengolah data
6.                  Pengguna data
Dalam proses pengambilan maupun pengolahan citra, komponen yang harus ada untuk mendapatkan hasil maksimal adalah seperti diatas. Apabila salah satu komponen tidak maksimal atau bahkan tidak memenuhi kriteria, maka dapat dipastikan pula hasil yang didapatkan juga tidak maksimal.
Sistem yang digunakan di penginderaan jauh berbeda dengan yang lainya. Sensor yang digunakan adalah sensor dengan resolusi yang tinggi dan membutuhkan energi yang sangat besar. Berdasarkan energinya ada pendinderaan jauh aktif (penginderaan jauh yang menggunakan energi yang berasal dari sensor) dan penginderaan jauh pasif (penginderaan jauh yang menggunakan energi yang berasal dari obyek).

BAB III

METODOLOGI

3.1.Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada praktikum mangrove penginderaan jauh menggunakan satelit Landsat TM 8 adalah sebagai beriku:
1. Seperangkat laptop        : sebagai alat utama untuk mendownload dan
mengolah data yang didapatkan dari satelit
2. Flash disk                       : untuk media penyimpanan, bias juga dalam
bentuk hard disk
3. Sumber arus listrik         : untuk sumber energi (charger) sehingga
laptop memiliki daya yang cukup
4. Koneksi internet            : koneksi untuk mengunduh citra satelit.
Koneksi internet yang stabil dan berkecepatan tinggi. Sehingga ketika mengunduh berjalan lancar
Sedangkan bahan yang digunakan pada praktikum mangrove penginderaan jauh menggunakan satelit Landsat TM 8 adalah hasil citra satelit Landsa TM 8 di kecamatan Sedati, kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

3.2.Sumber Data

Sumber data yang digunakan berupa hasil citra dari satelit Landsat TM 8. Citra satelit Landsat TM 8 dapat diunduh melalui website resmi yaitu: (http://earthexplorer.usgs.gov/). Sumber data bisa didapatkan secara gratis melalui website resmi dari USGS.

BAB IV

PEMBAHASAN

1.1.            Pengolahan Mangrove Landsat

1.1.1.      Download Citra Landsat 8

Langkah pertama yang dilakukan untuk mengetahui luasan mangrove di daerah yang diinginkan yaitu dengan cara mendownload data citra satelit pada daerah yang diinginkan. Data citra satelit yang digunakan adalah Citra Landsat 8. Untuk memperoleh data dapat diakses melalui web http://glovis.usgs.gov/.
1.    Pilih Path 119 & Rows 66  atau sesuai wilayah yang di inginkan
2.    Lalu pilih Bulan & Tahun yang di inginkan  
3.    Akan terhubung pada pemasukan Username & Password – Sign in
4.    Lalu pilih lambang download
5.    Pilih download yang Level 1 Produck kemudian akan mendownload secara otomatis
Setelah berhasil mendownload citra satelit Landsat 8, lalu file hasil downloadan diekstrak untuk mendapatkan band yang diinginkan. Setelah proses ekstraksi, band di dalam file ada 11 band.

1.1.2.      Penggabungan Data Citra Landsat (stack layer)

Stack layer adalah teknik yang dilakukan untuk menggabungkan file layer-layer yang terpisah dan terdiri dari beberapa band tergantung dari jenis citra satelit yang di peroleh, untuk landsat-8 ada 11 band. Dalam pembuatan peta sebaran kerapatan mangroe ini hanya digunakan band 1 – 7. Berikut langkah- langkah pada stack layer;
1.   Ekstrak file yang telah berhasil di download dari sumber
2.  Edit Algoritm lalu Pilih load data set untuk membuka folder yang telah di ekstrak
3.   Pilih band 1 (B1)
4.   Duplikat pseudo layer sampai 5 layer
5.   Rename masing masing layer menjadi (1, 2, 3, 4, 5, dan 7),
6.   Isikan masing masing layer dengan Band sesuai urutan
7.  Save as gambar yang muncul dengan format .ers dengan Null Value 0
Penggabungan data citra Landsat 8 (stack layer) didaerah wilayah kecamatan Sedati, kabupaten Sidoarjo didapatkan hasil yang telah di-duplicate hingga menjadi 6 layer dengan pemberian nama setiap layer B1, B2, B3, B4, B5,dan B7. Dimana pemberian nama layer ini disesuaikan dengan nama band yang telah didownload (terdapat 11 band yang terdownload), warna pada file layer setelah di-clip yang bertujuan agar tampilan warna tampak lebih jelas untuk menunjukkan daerah yang telah didownload. Setelah itu file hasil penggabungan dari setiap layer dengan nama “gabungan”dengan tipe file (.ers) dan dipilih “ERMapper Raster Dataset” pata kotak dialog dengan Data Type IEEE4ByteReal agar dapat diolah pada software ArcGIS.

1.1.3.      Cropping

Cropping adalah kegiatan memotong citra yang bertujuan untuk memilih area yang diinginkan dan memperkecil ukuran file dari citra, sehingga pemrosesan data menjadi lebih ringan dan lebih fokus dalam penelitian pada daerah yang diteliti. Proses ini dilakukan dengan software ER Mapper. Berikut merupakan langkah-langkah stack layer:
1.    Buka data yang tadi disimpan dengan format .ers
2.    Perbesar Lembar Algorithm dengan Zoom to All Datasets.
3.    Pilih lokasi dengan Zoom box Tool
Pada proses cropping, pertama dibuka data stack layer yang sudah di save dengan pilih file open. Dalam melakukan pemotongan hasil olahan data citra Landsat 8, menggunakan menu Quick Zoom dan pengaturan pada ukuran gambar Lembar Algorithm dengan cara menarik batas gambar. Perbesar Lembar Algorithm dengan menarik ke luar pada ujung-ujungnya, lalu klik kanan pada Lembar Algorithm, pilih menu Quick Zoom, klik Zoom to All Datasets. Kemudian perkecil dengan klik , pilih daerah yang akan dihitung luas sebarannya. Kemudian simpan layer dengan langkah yang sama seperti pada proses stack layer dengan nama file yang berbeda.

1.1.4.      Mengolah RGB

Proses mengubah RGB disini bertujuan untuk membedakan objek yang terdapat pada hasil cropping berdasarkan band yang digunakan. Pada proses ini dapat dilihat sebaran Mangrove suatu wilayah.  Berikut tahap- tahap dalam mengubah RGB;
1.    Buka data Cropping dengan file -open
2.    Pastikan file terdapat layer RGB pada alogaritma
3.    Ubah layer RGB masing-masing R = 5, G = 6, B = 4
4.    Simpan file dalam format *.tif
Setelah cropping selesai, file hasil dari cropping dibuka ulang dan diubah menjadi  file RGB (Red Green Blue), proses selanjutnya mengedit algoritma dengan mengatur band yang digunakan yaitu R = 5, G = 6, B = 4 dan disimpan dengan format ekstensi file *.tif.

4.1.5.      RGB Compiste

RGB Composite pada dasarnya bertujuan untuk mengatur pilihan band pada RGB, yang akan digunakan untuk membedakan warna mangrove dan kawasan lainnya.. Untuk menjalankan ini menggunakan program ArcGIS.10. Tahapnya adalah sebagai berikut :
1.    Layout View untuk membuka papan lembar layer
2.    Buat lembar layer Landscape
3.    Add data format *.tif
4.    Pilih properties pada data yang dibuka
5.    Pilih Symbology lalu atur band

4.1.6.      Digitasi

Proses digitasi pada hasil olahan ER Mapper 7.1, selanjutnya diolah dengan software ArcGIS 9.3. Pemilihan warna pada proses digitasi adalah merah untuk mangrove, biru untuk laut, hijau untuk hutan, biru tua untuk sungai dan warna beige untuk daratan. Proses ini akan berlanjut dengan proses layouting.
1.    Buka file Cropping
2.    pilih band 5
3.    Edit Formula
4.    Masukkan Rumus pemisahan darat laut
5.    pilih input 2 band2
Hasil dari proses digitasi adalah bentuk ekstrak file yang di export dari ArcGIS menjadi format ekstensi *.jpg setelah proses layouting.

4.1.7.      Layouting

Layouting adalah langkah yang dilakukan untuk menampilan hasil akhir dari pengolahan data citra dalam bentuk peta lengkap beserta judul, simbol, skala, arah mata angin, sumber, tahun dan nama pembuat. Biasanya disimpan dalam bentuk file gambar format JPEG. Langkahnya adalah dengan melanjutkankan hasil klasifikasi pada bab sebelumnya pada program ArcGIS.9.3. Proses layouting meliputi proses sebagai berikut:
1.        Title untuk member judul peta.
2.        Legend untuk menampilkan legenda berupa jalan, daratan, sungai, mangrove dll
3.        Text untuk memberi nama keterangan peta
4.        Picture untuk memasukkan gambar / lambang
5.        Nort Arrow, untuk memunculkan simbol arah mata angin.
6.        Scale Bar untuk skala garis, scale text untuk skala angka dan banyak lagi menu yang lain sesuai keinginan pembuat.
1.         

4.2.         Hasil Layouting dan Pembahasan

Data satelit Landsat 8 yang terbilang baik dan bebas awan untuk wilayah kecamtan Sedati, kabupaten Sidoarjo pada tahun 13 Agustus 2013. Peta Sebaran Mangrove sebagai berikut:
Dengan analisa open attribute di ArcGIS maka didapatkan table luasan mangrove untuk kecamtan Sedati, kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur sebagai berikut:
Dengan analisa open attribute di ArcGIS maka didapatkan table luasan mangrove untuk kecamtan Sedati, kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur sebagai berikut:
Id
Luas
0
4803114
0
920554
0
561382
Total
6285050







Dari perhitungan diatas, kecamatan Sedati, kabupaten Sidoarjo memiliki luasan mangrove yang terdigitasi 6.285.050 m2.  Dari hasil tersebut, kecamatan Sedati, kabupaten Sidoarjo memiliki luasan mangrove yang masih tergolong luas tetapi hanya di sekitar wilayah pesisir saja.

BAB V

PENUTUP

1.1.             Kesimpulan

Kesimpulan yang didapatkan dari perhitungan luasan mangrove di kecamatan Sedati, kabupaten Sidoarjo dengan penginderaan jauh adalah:
1.      Luasan mangrove kecamatan Sedati, kabupaten Sidoarjo adalah 6.285.050 m2
2.      Mangrove kecamatan Sedati, kabupaten Sidoarjo tergolong masih luas akan tetapi hanya tersebar di wilayah sekitar pesisir saja.

1.2.            Saran

Pada dasarnya tujuan instruksional praktikum sudah tercapai walaupun dengan sistem yang kurang jelas. Saran dari praktikum Penginderaan Jauh materi peta sebaran mangrove adalah agar lebih diperbanyak lagi asistennya sehingga lebih efisien dan dapat lebih mudah dimengerti, karena jika asistennya hanya satu, proses asistensi menjadi kurang kondusif dan efisien.Serta penjadwalan asistensi yang jelas. Pada masa yang akan datang praktikum penginderaan jauh diharapkan menjadi lebih terstruktur dengan jelas.

DAFTAR PUSTAKA

Kusmana, Cecep. 2009. Pengelolaan Sistem Mangrove Secara Terpadu. Bogor: Institute Pertanian Bogor.
Lillesand and Kiefer. 1979.  Remote Sensing and Image Interpretation, John Wiley & Son, New York,
Noor, Y. R., Kazali, M., Suryadiputra, INN. 1999. Panduan pengenalan mangrove di Indonesia. Wetland International Indonesia Programme.
Nybakken, J.W. 1998. Biologi laut: Suatu Pendekatan Ekologi. PT. Gramedia, Jakarta. 458 p.
Raymond. 2010. Pengelolaan Hutan Mangrove Berbasis Masyarakat di Kecamatan Gending, Probolinggo. Malang: Fakultas Pertanian Universtias Brawijaya.
Purnobasuki, H. 2005. Tinjauan Perspektif Hutan Mangrove. Penerbit Airlangga University Press. Surabaya.