Friday, October 3, 2014

OBT (The Bremen Ocean Bottom Tiltmeter)-SUATU TEKNIK INSTRUMENTASI UNTUK INDIKATOR MONITORING PERUBAHAN BENTUK LAUT DALAM DAN LEVEL SEISMIK

OBT (The Bremen Ocean Bottom Tiltmeter)-SUATU TEKNIK INSTRUMENTASI UNTUK INDIKATOR MONITORING PERUBAHAN BENTUK LAUT DALAM DAN LEVEL SEISMIK

Disusun oleh:
Ikbar Sallim Al Asyari

Proses Geodinamik merupakan sebuah proses perbaikan dasar laut dari yang kurang baik menjadi lebih baik ataupun sebaliknya. Proses ini dipengaruhi oleh gundukan dasar laut atau biasa yang disebut mid ocean ridges. Namun, gundukan tersebut menyerupai gundukan Hidrotermal Vent. Sejatinya gundukan tersebut ialah mid ocean ridges bukanlah Hidrotermal Vent. Crone dan Wilcock tahun 2005 dalam investigasinya menyebutkan bahwa mid ocean ridges terletak diatas patahan tektonik oleh karena itu maka jumlah secara keseluruhannya lebih banyak dibandingkan daerah yang tidak terletak diatas patahan tektonik.
            Studi mengenai Proses Hidrotermal secara berkelanjutan telah dihubungkan dengan observasi periode berkala atau sampel tunggal. OBT adalah suatu alat yang dapat dipergunakan untuk mengetahui perubahan struktur tanah diatas permukaan dasar laut, perubahannya pun masih dapat dipantau permenit atau perbulan sehingga didapatkan data tahunan. OBT tidak hanya digunakan untuk itu saja namun, juga digunakan untuk mengetahui aktivitas magmatik sirkulasi fluida dan masih banyak lagi. Alat ini menggunakan sensor MEMS yang mempunyai frekuensi terendah yakni 1 Hz namun tidak mungkin jika frekuensi terendah kurang dari 1 Hz. OBT diperkirakan mempunyai percepatan seismik yang hampir menyerupai aktivitas seismik daratan atau lapisan litosfer bumi dengan penyebab aliran panas air ataupun aktivitas tektonik.
Para ilmuwan percaya bahwa pelepasan energi pada proses tektonik lempeng bertumpu pada ujung lengan-lengan lempeng yang saling bergerak. Beberapa lengan lempeng membentuk lembah yang sangat dalam dan sempit yang disebut palung (trench). Beberapa yang lain membentuk punggungan yang sangat tinggi dan curam yang disebut dengan tinggian. Pertemuan dua atau lebih lempeng yang berbeda, berada pada ujung lempeng tersebut, sehingga diketahui sebagai zona pelepasan energi dari dalam bumi, pemicu terjadinya gempa bumi. Ada empat tipe tepian lempeng kerak bumi, yaitu tepian divergen (pemekaran), konvergen (zona subduksi/ penunjaman), transform (zona akresi) dan tepian lempeng yang sulit dikenali (Mulyaningsih, 2010).
Tipisnya lempeng samudra dapat menunjam secara mulus hingga bagian terbawah lempeng benua. Walaupun demikian, bagian atas lempeng dan ujung lempeng yang menunjam tersebut, tentunya akan terdeformasi, bahkan hingga hancur membentuk serpihan-serpihan yang lebih kecil. Serpihan-serpihan tersebut selanjutnya tertahan pada posisi asalnya, sampai akhirnya patah setelah tingkat elastisitasnya terlampaui, dan menyebabkan gempa bumi. Kebanyakan gempa bumi yang ditimbulkan oleh proses tumbukan tersebut disertai dengan pengangkatan dari lempeng benua dalam beberapa centimeter hingga beberapa meter membentuk zona akresi (Sukandarrumidi, 2013).
Kegunaan OBT inilah yang ditujukan untuk memodelkan pergerakan muka bumi pada proses Hidrotermal dan proses Geodinamik. Perkembangan dunia sains baik dalam terapannya maupun keilmuan dan penelitiannya merupakan titik awal pengembangan rekayasa teknologi untuk manajemen lingkungan yang tepat serta sudah seharusnya dijadikan acuan pencegahan bencana untuk penyelamatan umat manusia, serta mempertajam dunia eksplorasi sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan manusia.     
  


Sumber Literatur :
Fabian, Marcus dkk. 2007. The Bremen Ocean Bottom Tiltmeter (OBT) – a technical article on a new instrument to monitor deep sea floor deformation and seismicity level. Denmark: Springer Science and Business Media 
Mulyaningsih, Sri. 2010. Pengantar Geologi Lingkungan. Yogyakarta: UGM Press
Sukandarrumidi. 2013. Geologi Minyak dan Gas Bumi. Yogyakarta:UGM Press

0 comments: